Selasa, 06 September 2016

JENDRAL SUDIRMAN

Nama lahir                               :Raden Soedirman
Nama lain                                : Jendral Sudirman
Tanggal lahir                           :Senin, 24 Januari 1916
Lahir di                                   : Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah
Meninggal                               : Magelang, 29 Januari 1950 (umur 34 tahun)
Makam                                    : Taman Makam Pahlawan Semaki
Kewarganegaraan                   : Indonesia
Agama                                     : Islam
Profesi                                     : TNI
Istri                                          : Alfiah
Anak                                           : Ahmad Tidarwono, Muhammad Teuh Bambang, Tjahjadi, Tufik Effendi, Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Titi Wahjuti Satyaningrum
Ayah                                       : Karsid Kartawiraji
Ibu                                           : Siyem
Saudara                                   : Muhammad Samingan

PENDIDIKAN
1.      Sekolah Taman Siswa
2.      HIK (Sekolah Guru) Muhammadiyah, Solo tetapi tidak sampai tamat
3.      Pendidikan Militer Pembela Tanah Air di Bogor
KARIR
1.      Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
2.      Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
3.      Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
4.      Komandan Batalyon kroya
PENGHARGAAN
1.      Pahlawan Nasional Indonesia
2.      Jenderal Besar Anumerta Bintang Lima (1997)



Berikut Ini Data Lengkap Tentang Jendral Besar Soedirman
Pengalaman Pekerjaan:
·         Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
·         Pengalaman Organisasi:
·         Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer:
·         Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima
·         Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
·         Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan:
·         Pahlawan Pembela Kemerdekaan
http://www.biografiku.com/2009/02/biografi-jenderal-sudirman.html diunduh pada 07 September 2016, pukul 11.16 WIB

Meninggal Dunia
Pada awal Agustus, Sudirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan perang gerilya. Sudirman tidak percaya bahwa Belanda akan mematuhi Perjanjian Roem-Royen, belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya. Soekarno tidak setuju, yang menjadi pukulan bagi Sudirman. 
Sudirman menyalahkan ketidak-konsistenan pemerintah sebagai penyebab penyakit tuberkulosisnya dan kematian Oerip pada 1948, ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya, namun Soekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama.  Dan gencatan senjata di seluruh Jawa mulai diberlakukan pada tanggal 11 Agustus 1949.
Sudirman terus berjuang melawan penyakit yang dideritanya TBC dengan melakukan pemeriksaan di Panti Rapih. Ia menginap di Panti Rapih pada tahun 1949, dan keluar pada bulan Oktober, ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat Pakem. Akibat penyakitnya ini, ia jarang tampil di depan publik.
Sudirman dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember 1949. Di saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.
Meskipun sedang sakit, Sudirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Pada tanggal 28 Desember 1949, Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu kota negara.
Sudirman wafat di Magelang pada tanggal 29 Januari 1950. Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki. Ia dikebumikan di sebelah makam Oerip.


KOLONEL KAWILARANG

Nama                                       : KAWILARANG, Alexander Evert
Nama Populer/Alias                :  Alex Kawilarang
Pangkat                                   : Kolonel Inf. TNI Purn. (Mayor Jenderal Permesta)
Tempat & Tgl Lahir                : Maeestercornelis(Jatinegara)/Jakarta, 23 Februari 1920
Tanggal  Meninggal                : 6 Juni 2000 di RSCM Jakarta

Peranan-Peranan Penting dalam hidup beliau:
1.      Memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, Republik Maluku Selatan/RMS, Pemberontakan Kahar Muzakhar
2.      Merintis pembentukan komando pasukan khusus TNI dengan nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar – Jawa Barat (April 1951). Setahun kemudian diambil alih oleh Markas Besar AD (MBAD) sebagai RPKAD (Resimen Para Komando AD) lalu berturut-turut berubah nama menjadi Palu RPKAD, Kopassandha, terakhir Kopassus (Komando Pasukan Khusus)
3.      Terlibat dalam kelompok pro-Peristiwa 17 Oktober 1952 dalam menentang campur tangan pemerintah dlm urusan militer
4.      Sebagai Panglima Besar Angkatan Perang PERMESTA

LATAR BELAKANG

Alex lahir dari sebuah keluarga militer. Ayahnya, A.H.H. Kawilarang, adalah seorang mayor KNIL asal Tondano, sementara itu ibunya, Nelly Betsy Mogot, berasal dari Remboken. Kawilarang, seorang suku Minahasa dari sub-suku Toulour. Dia Juga Merupakan Sepupu dari Pahlawan Nasional Daan Mogot

KELUARGA

Kawilarang menikah dua kali: pertama dengan Petronella Isabella van Emden dan bercerai pada 1958, dan kedua dengan Henny Olga Pondaag, bekas istri Ventje Sumual, sahabatnya dalam perjuangan Permesta. Dari pernikahannya yang pertama, ia memperoleh dua orang anak; Aisabella Nelly Kawilarang dan Alexander Edwin Kawilarang. Dari pernikahannya yang kedua, ia memperoleh seorang anak Pearl Hazel Kawilarang.

PENDIDIKAN

Alex menempuh pendidikan dasarnya di sebuah Europeesche Lagere School (ELS), mula-mula di Tjandi, Semarang dan kemudian di Tjimahi, Jawa Barat. Selesai dari situ, ia melanjutkan ke Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung, sekarang ditempati SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung), setara dengan SMP/SMA yang lamanya 5 tahun.
Selesai dari pendidikan menengahnya, Alex mengikuti jejak ayahnya dan mengikuti pendidikan militer, mula-mula di Corps Opleiding Reserve Officeren (CORO) (Korps Pendidikan Perwira Cadangan KNIL) (1940), yang dilanjutkannya ke Koninklijk Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan) (KMA) darurat di Bandoeng dan Garoet, Jawa Barat (1940-1942).
Kelak ia juga sempat mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando AD (SSKAD) di Jakarta.

 

KARIER SEBAGAI MILITER

Kawilarang mengawali kariernya sebagai Komandan Pleton Kadet KNIL di Magelang pada bulan 1941-1942. Pada 11 Desember 1945 ia menjadi perwira penghubung dengan pasukan Inggris di Djakarta dengan pangkat mayor. Pada Januari 1946 ia menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat, dengan pangkat letnan kolonel. Tiga bulan setelah itu, pada April-Mei 1946, ia diangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor, dan pada bulan Agustus 1946 hingga 1947 ia diberi kepercayaan sebagai Komandan Brigade II/Suryakencana - Divisi Siliwangi di Sukabumi, Bogor dan Tjiandjur.
Pada 1948-1949, Kawilarang menjabat sebagai Komandan Brigade I Divisi Siliwangi di Yogyakarta, dan pada 28 November 1948 ia juga menjabat sebagai Komandan Sub Teritorium VII/Tapanuli, Sumatera Timur bagian selatan, lalu pada 1 Januari 1949 pada masa PDRI ia dipercaya sebagai Wakil Gubernur Militer PDRI untuk wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur bagian selatan.

Pada 28 Desember 1949 ia menjabat sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara merangkap Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel. Pada 21 Februari 1950, ia mendapatkan kepercayaan tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium I/Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan.
Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi yang di kemudian hari diubah namanya menjadi Kodam III/Siliwangi. Sebelumnya pada 15 April 1950 ia telah diangkat sebagai Panglima Operasi Pasukan Ekspedisi.
Dalam kedudukannya ini, Kawilarang memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku, dan Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.
Pada April 1951, ia merintis pembentukan komando pasukan khusus TNI dengan nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwang. di Batujajar, Jawa Barat. Kesatuan ini merupakan cikal bakal dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sekarang.
Pada 10 November 1951 hingga 14 Agustus 1956, Kawilarang diangkat menjadi Panglima Komando Tentara dan Territorium III/Siliwangi yang berkedudukan di Bandung.
Pada 17 Oktober 1952, Kawilarang bersama-sama dengan sejumlah tokoh militer lainnya (a.l. A.H. Nasution, T.B. Simatupang, dll), terlibat dalam apa yang dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober, yang menentang campur tangan pemerintah dalam urusan militer.

 

MENEMPELENG SOEHARTO

Kawilarang dikenal sebagai panglima yang pernah menampar Letkol. Soeharto yang saat itu adalah salah seorang bawahannya.
Pada tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Kawilarang baru saja melapor kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman. Namun Soekarno malah menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Ternyata Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar, telah melarikan diri ke lapangan udara Mandai.
Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto, sambil menempelengnya.

BERGABUNG DENGAN PERMESTA

Dari September 1956 hingga Maret 1958 Kawilarang menjabat sebagai atase militer pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, Amerika Serikat, dengan pangkat brigadir jenderal. Ketika pemberontakan PRRI/Permesta meletus di tanah air, Kawilarang segera melepaskan jabatannya sebagai atase militer lalu minta pensiun. Ia kembali ke tanah air dan langsung ke Sulawesi Utara untuk menjabat sebagai Panglima Besar/Tertinggi Angkatan Perang Revolusi PRRI (1958) dan Kepala Staf Angkatan Perang APREV (Angkatan Perang Revolusi) PRRI, dengan pangkat mayor jenderal dari Februari 1959 hingga Februari 1960.
Pada 1960-1961, Kawilarang menjabat sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Permesta.
Pihak Permesta akhirnya turun gunung dan bersedia berunding dengan pihak tentara Republik Indonesia yang dipimpin oleh Jend. Nasution. Menurut Kawilarang, sebelumnya telah tercapai kesepakatan bahwa pasukan Permesta akan membantu pihak TNI untuk bersama-sama menghadapi pihak komunis di Jawa. Karenanya, Kawilarang merasa menyesal ketika Nasution tidak memegang janjinya.
Pada 1961, Kawilarang menerima amnesti dan abolisi dari Presiden Soekarno melalui Keppres 322/1961. Namanya kemudian direhabilitasi. Kawilarang kemudian pensiun dari dinas TNI, namun pangkatnya diturunkan menjadi kolonel purnawirawan.

KEHIDUPAN SEBAGAI SWASTA

Pada Akhir 1960an, ia pernah mengajukan proposal untuk pendirian pabrik tepung terigu, bahkan diberikan izin oleh Soemitro Djojohadikoesoemo, selaku Menteri Perindustrian dan Perdagangan saat itu, ternyata tidak jadi karena izin dilalihkan olek Soeharto kepada Bogasari[1]. Pada 1972 Kawilarang menjabat sebagai wakil manajer umum Jakarta Racing Management, yang mengelola pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur.

MASA TUA DAN KEMATIAN

Pada 15 april 1999, kawilarang akhirnya memperoleh pengakuan atas jasa-jasanya dalam ikut membentuk kopassus. Pada peringatan hari jadi korps tersebut yang ke-47, kawilarang diterima sebagai warga kehormatan kopassus di markas kopassus di cijantung, jakarta timur. Sebagai tandanya, ia dianugerahi sebuah baret merah dan pisau komando.
Pada 6 juni 2000, kawilarang meninggal dunia akibat komplikasi beberapa penyakit di rumah sakit cipto mangunkusumo dan dimakamkan dua hari kemudian di taman makam pahlawan cikutra, bandung.
des alwi, seorang tokoh pemuda 1945 menyebut kawilarang sebagai seorang tentara asli yang jujur dan tidak main politik. Tindakannya menempeleng soeharto tampaknya tidak pernah dimaafkan oleh presiden kedua ri itu, sehingga sampai kawilarang meninggal, ia tidak pernah berbicara dengan bekas atasannya itu. Baru setelah soeharto turun dari jabatannya dan digantikan oleh b.j. habibie, kawilarang memperoleh penghargaan atas jasa-jasanya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Alex_Kawilarang di unduh pada 07 September 2016, pukul 10.40 WIB

MOH. YAMIN

Nama                           : Prof. Mohammad Yamin, S.H.
Tanggal Lahir              : 24 Agustus 1903
Tempat Lahir               : Sawahlunto, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Zodiac                         : Virgo
Meninggal                   : Jakarta, 17 Oktober 1962 (umur 59)
Makam                        : Talawi, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat.
Agama                         : Islam
Ayah                           : Tuanku Oesman Gelar Baginda Khatib
Ibu                               : Siti Saadah

Profil Mohammad Yamin
Mohammad Yamin merupakan pahlawan yang memperjuangakan persatuan dan kesatuan pemuda melalui Sumpah Pemuda tahun 28 Oktober 1928. Beliau adalah seorang sastrawan, politikus dan ahli hukum yang disegani sebagai Pahlawan nasional Indonesia. Beliau Lahir di Sawah Lunto Sumatera Barat pada tanggal 24 Agustus 1903. Biografi Mohammad Yamin dimulai dari Riwayat pendidikan Mohammad Yamin di awali dengan pendidikan dasar d Palembang, kemudian ia melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta yaitu Sekolah AMS. Disana ia juga mempelajari sejarah purbakala dan beberapa bahasa di dunia seperti latin, kael dan Yunani. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan hukum di Batavia. Ia memperoleh gelar Messter in de Rechten/Sarjana Hukum dari Rechtshoogeschool te Batavia.
Kisah hidup Mohammad Yamin pada masa penjajahan pemerintahan Belanda, di isi dengan bergabung dengan beberapa organisasi kepemudaan. Salah satu organisasi yang ia ikuti saat beliau masih kuliah adalah Jong Sumateranen Bond. Bersama organisasinya ini Beliau terlibat dalam panitia Sumpah pemuda.  Setelah mendapatkan gelar S 1 nya ia juga bergabung menjadi anggota PARTINDO yang tidak bertahan lama.  Biografi Mohammad Yamin dilanjutkan keikutsertaan Mohammad Yamin mengikuti organisasi Gerinda bersama kapau Gani, Amir Syarifuddin dan Adenan. Pada saat pemerintahan penjajah jepan Mohammad Yamin masih tetap bergerak untuk mencapai kemerdekaan melalui Pusat Tenaga Rakyat bentukan Jepang. Selain itu ia juga terpilih sebagai anggota dalam badan bentukan pemerintahan jepang yaitu badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). 

Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan dan kekuasaan negara dipimpin oleh Soekarno Hatta, beliau diangkat sebagai pemangku jabatan penting dalam sebuah negara. Biografi Mohammad yamin mencatat beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR dari tahun 1950. Cerita hidup Mohammad Yamin dilanjutkan dengan menjadi menteri kehakiman pada tahun 1952 hingga 1952. Dilanjutkan dari tahun 1953 hingga 1955 Beliau menjadi menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau juga sempat menjabat ketua Dewan perancang Nasional pada tahun 1962. Beliau juga menjadi pengawas IKBN Antara (1961-1962) dan menjadi menteri penerangan (1962-1963). 

Terlepas dari biografi Mohammad Yamin yang mencatat keberhasilan karier nya di bidang politik, beliau juga merupakan seorang sejarahwan dan sastrawan. Beliau juga dikenal sebagai perintis puisi Modern di Indonesia. Beliau sering menulis dan menerbitkan tulisan-tulisannya dalam journal berbahasa belanda maupun berbahasa melayu. Karyanya yang telah diterbitkan adalah puisi Tanah Air dan Tumpah Darahku. Karyanya tersebut sebagian besar berbentuk sonata. Tidak hanya terbatas pada puisi, beliau juga menerbitkan esai, drama dan terjemahan karya Shakespeare dan Rabindranath Tagore. 

Pahlawan Nasional Indonesia ini mengakhiri Biografi Mohammad Yamin dengan tutup usia di Jakarta pada tanggal 17 oktober 1962 di usia nya 59 tahun. Berdasarkan perjuangan hidup Mohammad Yamin kepada Indonesia, beliau mendapat penghargaan Bintang Mahaputra RI dari Presiden, Penghargaan Corps Polisi Militer atas jasanya telah menciptakan lambang gajah mada dan Panca Darma corps, dan penghargaan panglima Kostrad.

Pendidikan Mohammad Yamin

·         Hollands Indlandsche School (HIS)
·         Sekolah guru
·         Sekolah Menengah Pertanian Bogor
·         Sekolah Dokter Hewan Bogor
·         AMS
·         Sekolah kehakiman (Reeht Hogeschool) Jakarta
 Karir Mohammad Yamin
·         Ketua Jong Sumatera Bond (1926-1928)
·         Anggota Partai Indonesia (1931)
·         Pendiri partai Gerakan Rakyat Indonesia
·         Anggota BPUPKI
·         Anggota panitia Sembilan
·         anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
·         Menteri Pendidikan
·         Menteri Kebudayaan
·         Menteri Penerangan
·         Ketua Dewan Perancang Nasional (1962)
·         Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962)

 Penghargaan Mohammad Yamin 

·         Gelar pahlawanan nasional pada tahun 1973 sesuai dengan SK Presiden RI No. 088/TK/1973
·         Bintang Mahaputra RI
·         Tanda penghargaan dari Corps Polisi Militer sebagai pencipta lambang Gajah Mada dan Panca Darma Corps
·         Tanda penghargaan Panglima Kostrad atas jasanya menciptakan Petaka Komando Strategi Angkatan Darat
WAFAT
Moh. Yamin meninggal pada tanggal 17 Oktober 1962. Jenazahnya dimakamkan di tanah kelahirannya Talawi, Sawahlunto. Pada tahun 1973 pemerintah Indonesia menetapkan Mr. Moh. Yamin sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.


http://www.biografipahlawan.com/2014/11/biografi-muhammad-yamin.html diunduh pada 07 September 2016, pukul 10.23 WIB

MOH. HATTA

Nama Lengkap            : Mohammad Hatta
Alias                            : Bung Hatta
Profesi                         : Pahlawan Nasional
Agama                         : Islam
Tempat Lahir               : Bukittinggi, Sumatera Barat
Tanggal Lahir              : Selasa, 12 Agustus 1902
Zodiac                         : Leo
Hobby                         : Membaca, Menulis
Warga Negara             :Indonesia
Istri                              :RahmiRachim
Anak                           :
Meutia Farida Hatta Swasono, Gemala Hatta, Halida Hatta


BIOGRAFI
Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia.
Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. 
Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".
Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia.
Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.
Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. 
Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.
Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.
Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.
Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.
Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.
Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.
Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.
Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman.
Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.
Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.
Hatta menikah dengan Rachim Rahmi pada tanggal 18 November 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.
Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" yang diberikan oleh Presiden Soeharto.
PENDIDIKAN
·         Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)
·         Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia (1921)
·         Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang (1919)
·         Europeesche Lagere School (ELS), Padang, 1916
·         Sekolah Dasar Melayu Fort de kock, Minangkabau (1913-1916)
KARIR
·         Ketua Panitia Lima (1975)
·         Penasihat Presiden dan Penasehat Komisi IV (1969)
·         Dosen Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta (1954-1959)
·         Dosen Sesko Angkatan darat, Bandung (1951-1961)
·         Wakil Presiden, Perdana menteri, dan Menteri Luar Negeri NKRIS (1949-1950)
·         Ketua delegasi Indonesia Konferensi Meja Bundar, Den Haag (1949)
·         Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan Menteri Pertahanan (1948-1949)
·         Wakil Presiden RI pertama (1945)
·         Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (1945)
·         Wakil Ketua Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (1945)
·         Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (1945)
·         Kepala Kantor Penasehat Bala Tentara Jepang (1942)
·         Ketua Panitia Pendidikan Nasional Indonesia (1934-1935)
·         Wakil Delegasi Indonesia Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931)
·         Ketua Perhimpunan Indonesia, Belanda (1925-1930)
·         Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921)
·         Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919)
·         Partai Nasional Indonesia
ORGANISASI:
·         Club pendidikan Nasional Indonesia
·         Liga menentang Imperialisme
·         Perhimpunan Hindia
·         Jong Sumatranen Bond
PENGHARGAAN
·         Pahlawan Nasional
·         Bapak koperasi Indonesia
·         Doctor Honoris Causa, Universitas Gadjah Mada, 1965
·         Proklamator Indonesia
·         The Founding Father's of Indonesia 
http://profil.merdeka.com/indonesia/m/mohammad-hatta/ diunduh pada 07 Sptember 2016, pukul 09.56 WIB
MENINGGAL DUNIA
Pada tanggal 14 Maret 1980, Hatta meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana. Dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta dan disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakit Presiden pada saat itu, Adam Malik.  Ia ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto.
Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Soekarno. Pada 7 November 2012, Hatta secara resmi bersama dengan Soekarno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.